Senin, 13 April 2015

Hey Dad! I Love You

Kali ini tentang Ayah.

Pernahkah kalian bertanya tentang ini pada Ayah?
Tentang apa saja mimpi-mimpinya,apa saja yang membuatnya kecewa, bahagia?
Dan membuatnya tak enggan bekerja keras dari pagi hingga senja.
Kemudian malam harinya ia bagikan seluruh cintanya ke segala penjuru rumah,bahkan menggaung hingga langit-langit rumah.
Tentu saja, cintanya sebesar cinta ibu, bahkan mungkin terlalu besar hingga tak tampak di seluruh penjuru Bumi.
Ia bagikan seluruh cinta pada anak-anaknya
Ia titipkan seluruh pengetahuannya
Ia selipkan seluruh doanya pada Tuhan di sepertiga malam
Kemudian ia simpan cinta itu di atas bantal tidur anak-anaknya
Membiarkannya menjadi mimpi paling indah yang akan terjadi di masa depan.

Pernahkah kalian melihat peluh mengucur dari dahinya ketika menunggumu kembali ke rumah?
Atau melihat wajahnya tampak cemburu ketika teman lelakimu datang ke rumah?
Atau menangkap isyarat kecewa dan khawatir ketika lekuk tubuhmu diumbar? 
Atau pernahkah kalian mendengar hasrat kalbunya, untuk menjadikanmu lelaki tegar, meski kini tubuh Ayah rapuh termakan usia?
Atau pernahkah melihatnya tersenyum tulus dan terselip bangga,ketika melihatmu tumbuh menjadi lelaki yang cita-citanya mengangkasa menjadi tentara-Nya yang tangguh?

Bagaimana pun kita, Ayah selalu berkata, “Dialah anakku.” 

Pesanku (cambuk bagiku juga),
Berusahalah untuk tak mengecewakannya
Belajarlah untuk tak menggadaikan pengorbanan dan cintanya
Sebab bagaimana pun, Ayah adalah sosok yang serta-merta berdiri paling depan membahagiakanmu
Ayah adalah lelaki yang paling keras kepala menghadiahkanmu sekeping bahagia
Maka belajarlah mencintainya dengan segenap rasa
Sempatkanlah menitipkan doa-doa agar Allah selalu menjaga diri dan cintanya, sampai tiba masanya
Masa dimana Ayah tak lagi mengenal anaknya, pun sebaliknya :)

Senin, 06 April 2015

'Tamparan' Untuk Pemendam Perasaan

Duduk. Dan berpikirlah.

“Aku yang lebih sayang sama kamu dibanding dia!”

Kalimat itu bukanlah sebuah persoalan, karena besar atau tidaknya sebuah sayang tidak akan berarti apa-apa kalau semua itu cuma dipendam.

Memendam perasaan bukan cara yang bagus untuk menunjukkan seberapa besar sayangnya kamu untuknya.

Risiko terbesar memendam perasaan adalah melihat dia dimiliki seseorang yang sayangnya tidak sebesar sayangmu.

Mau sayangmu lebih besar dari sayangnya, atau biarpun kamu yang lebih dahulu jatuh cinta padanya, semuanya sia-sia jika hanya dipendam.

Kamu boleh bangga punya sayang lebih besar atau lebih dulu jatuh cinta padanya, tapi pemenangnya tetap mereka yang mengungkapkan.

“Memendam perasaan” adalah makhluk yang akan menggerogoti hati sendiri… sampai habis. Tak bersisa.

Memendam perasaan adalah bom waktu. Tinggal tunggu, meledak menjadi ungkapan perasaan, atau menjadi ledakan tangisan.

Memendam perasaan karena takut jika mengungkapkan malah membuat jauh? Justru dengan memendam, kamu menjauhkan hati kamu, dengan hatinya.

Mereka yang sayangnya lebih besar tapi dipendam, terduduk di pojok hati penuh ruang. Mereka yang mengungkapkan, tersenyum menang.Perasaan. Semakin dipendam, semakin tenggelam. Dalam diam.
Pada akhirnya, sayang yang lebih besar, cinta yg lebih dulu ada, tak ada apa-apanya jika dibandingkan rasa yang diungkapkan.

Untuk kamu yang memendam perasaan, selamat menunggu… selamanya.