Senin, 14 September 2015

:)

Kadang-kadang pilihan terbaik adalah menerima.
Ketika belum terjadi, terima firasatnya. Ketika sudah terjadi, terima kejadiannya. Yang kamu butuhkan hanya MENERIMA.

Menolak, menyangkal, cuma bikin kamu lelah.

Lalu, untuk apa? Untuk apa diberi pertanda jika ternyata tak bisa mengubah apa-apa?

Hidup memang aneh, banyak penjelasan didalam ketidakjelasannya.

Terpaksa, aku mengangguk. Terpaksa, semua baik-baik saja. Kusapukan mata melihat sekeliling. Dunia berjalan normal. Hidup yang bergulir seperti biasa. Semua yang harus baik-baik saja.
Kita tak tahu dan tak pernah pasti tahu hingga semuanya berlalu. Benar atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan cuma waktu.

Selasa, 28 Juli 2015

Salju gurun

Di hamparan gurun yang seragam, jangan lagi menjadi butiran pasir. Sekalipun nyaman engkau di tengah impitan sesamamu, tak akan ada yang tahu jika kau melayang hilang.

Di lingkungan gurun yang serba serupa, untuk apa lagi menjadi kaktus. sekalipun hijau warnamu, engkau tersebar dimana-mana. Tak ada yang menangis rindu jika kau mati layu.

Di lansekap gurun yang mahaluas, lebih baik tidak menjadi oase. Sekalipun rasanya kau sendiri, burung yang tinggi akan melihat kembaranmu di sana-sini.

Di tengah gurun yang tertebak, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angin malam akan mengigil letika melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus akan terperangah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi atau sekedar bergerak dua inci.

Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kau... berbeda.

Sabtu, 06 Juni 2015

Ready?

Hari ini aku boleh mandi sendiri, namun mungkin esok akan ada orang lain yang memandikan aku. Hari ini aku bahagia bersama orang di sekelilingku, mungkin esok aku akan sendirian di sana.

Suatu saat akan datang hari dimana semua akan menjadi kenangan. Berbuat baiklah. Karena kita masih bisa tetap hidup bahkan ketika mati sekalipun. Iya, kita bisa hidup di hati seseorang yang selalu mengingat kebaikan kita. So, be a good person please:)

Andai kata hari ini adalah hari terakhir aku hidup di dunia, ampunkanlah salah dan silap aku sepanjang perkenalan kita. Sekiranya aku pergi, sedekahkanlah Al-Fatihah sebagai tanda kau merinduiku.

Jumat, 05 Juni 2015

Dia

Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta. Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kehilafan untuk sampai jatuh hati kepadamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi semua tulisannya dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipi nya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang dia hanguskan, bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila, beterbangan masuk ke matanya. Semoga dia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.

Kamis, 28 Mei 2015

Pergilah


Pergilah, temukan kesunyian dalam ruang semesta. Karena hirup kehidupan yang sesak tidak akan menemukan kesadaran pada diri, sejatinya.

Rabu, 27 Mei 2015

Aku bersyukur dilahirkan menjadi pembangkang.

Pada sebagian besar waktu dalam hidup, aku sering tidak bisa menerima begitu saja.

Aku sering tak percaya apa yang dikatakan orang. Bagiku, jawaban dari orang lain hanya menambah tanda tanya. Aku lebih percaya kepada hidup.

Tuhan bersama semesta-Nya lebih jujur daripada jujur.

Ia memberikan pertanda kepada setiap makhluk-Nya.

Kita, makhluk yang tak pandai membaca. Ada seorang bijak pernah berkata bahwa kadang kita tak bisa bersama dengan yang dicinta.

Aku berkali-kali bertemu dengan orang yang harus merelakan cintanya dan menerima cukup yang ada.

Merelakan yang telah pergi sedang batin dan raga menjerit berusaha meraih hadirnya.

Kondisi yang beberapa orang coba jalani selamanya dalam hidupnya.

Aku bersyukur dilahirkan menjadi pembangkang.

Karena aku tak ingin berakhir seperti mereka.

Aku pernah bermimpi mewujudkan mimpi. Sebuah mimpi yang tercipta dari alam bawah sadar yang paling dalam.

Yang bahkan aku sendiri tak tahu mengapa aku memimpikannya.

Sampai aku sadar, bahwa mimpi itu harus kuhidupi. 

Senin, 13 April 2015

Hey Dad! I Love You

Kali ini tentang Ayah.

Pernahkah kalian bertanya tentang ini pada Ayah?
Tentang apa saja mimpi-mimpinya,apa saja yang membuatnya kecewa, bahagia?
Dan membuatnya tak enggan bekerja keras dari pagi hingga senja.
Kemudian malam harinya ia bagikan seluruh cintanya ke segala penjuru rumah,bahkan menggaung hingga langit-langit rumah.
Tentu saja, cintanya sebesar cinta ibu, bahkan mungkin terlalu besar hingga tak tampak di seluruh penjuru Bumi.
Ia bagikan seluruh cinta pada anak-anaknya
Ia titipkan seluruh pengetahuannya
Ia selipkan seluruh doanya pada Tuhan di sepertiga malam
Kemudian ia simpan cinta itu di atas bantal tidur anak-anaknya
Membiarkannya menjadi mimpi paling indah yang akan terjadi di masa depan.

Pernahkah kalian melihat peluh mengucur dari dahinya ketika menunggumu kembali ke rumah?
Atau melihat wajahnya tampak cemburu ketika teman lelakimu datang ke rumah?
Atau menangkap isyarat kecewa dan khawatir ketika lekuk tubuhmu diumbar? 
Atau pernahkah kalian mendengar hasrat kalbunya, untuk menjadikanmu lelaki tegar, meski kini tubuh Ayah rapuh termakan usia?
Atau pernahkah melihatnya tersenyum tulus dan terselip bangga,ketika melihatmu tumbuh menjadi lelaki yang cita-citanya mengangkasa menjadi tentara-Nya yang tangguh?

Bagaimana pun kita, Ayah selalu berkata, “Dialah anakku.” 

Pesanku (cambuk bagiku juga),
Berusahalah untuk tak mengecewakannya
Belajarlah untuk tak menggadaikan pengorbanan dan cintanya
Sebab bagaimana pun, Ayah adalah sosok yang serta-merta berdiri paling depan membahagiakanmu
Ayah adalah lelaki yang paling keras kepala menghadiahkanmu sekeping bahagia
Maka belajarlah mencintainya dengan segenap rasa
Sempatkanlah menitipkan doa-doa agar Allah selalu menjaga diri dan cintanya, sampai tiba masanya
Masa dimana Ayah tak lagi mengenal anaknya, pun sebaliknya :)

Senin, 06 April 2015

'Tamparan' Untuk Pemendam Perasaan

Duduk. Dan berpikirlah.

“Aku yang lebih sayang sama kamu dibanding dia!”

Kalimat itu bukanlah sebuah persoalan, karena besar atau tidaknya sebuah sayang tidak akan berarti apa-apa kalau semua itu cuma dipendam.

Memendam perasaan bukan cara yang bagus untuk menunjukkan seberapa besar sayangnya kamu untuknya.

Risiko terbesar memendam perasaan adalah melihat dia dimiliki seseorang yang sayangnya tidak sebesar sayangmu.

Mau sayangmu lebih besar dari sayangnya, atau biarpun kamu yang lebih dahulu jatuh cinta padanya, semuanya sia-sia jika hanya dipendam.

Kamu boleh bangga punya sayang lebih besar atau lebih dulu jatuh cinta padanya, tapi pemenangnya tetap mereka yang mengungkapkan.

“Memendam perasaan” adalah makhluk yang akan menggerogoti hati sendiri… sampai habis. Tak bersisa.

Memendam perasaan adalah bom waktu. Tinggal tunggu, meledak menjadi ungkapan perasaan, atau menjadi ledakan tangisan.

Memendam perasaan karena takut jika mengungkapkan malah membuat jauh? Justru dengan memendam, kamu menjauhkan hati kamu, dengan hatinya.

Mereka yang sayangnya lebih besar tapi dipendam, terduduk di pojok hati penuh ruang. Mereka yang mengungkapkan, tersenyum menang.Perasaan. Semakin dipendam, semakin tenggelam. Dalam diam.
Pada akhirnya, sayang yang lebih besar, cinta yg lebih dulu ada, tak ada apa-apanya jika dibandingkan rasa yang diungkapkan.

Untuk kamu yang memendam perasaan, selamat menunggu… selamanya.

Minggu, 29 Maret 2015

--

This time, last year, everything was so different. Think about it what were you doing a year ago?

Look how things have changed!
Good or bad, they do not stay the same. So enjoy all the beauty, love who you want, and forgive if you can.

The good is sometimes only there for a short time. Keep in mind that the bad is also there for a short time too, don't let the junk block your view. If you feel so lost, just know that this too shall pass. Learn to let go of the bad and experience the beauty of the moment. ♥:)

Jumat, 27 Maret 2015

Cuma Satu Ketidakpastian

“Mencinta, harusnya layaknya dendam. Mesti berbalas.”

Beberapa orang pernah merindu hingga menangis. Ingin memeluknya hingga sesak napas.

Semua semata karena tak ada balasan darinya. Jangankan balasan, tahu pun dia tidak. Jatuh cinta sendirian membuatmu kuat, memiliki tenaga layaknya monster, hampir tak terbatas.

Namun semuanya habis diserap penasaran, diserap prasangka yang dibangun sendiri, kemudian jumlahnya menjadi minus ketika persepsi baik yang kamu bangun sendiri ternyata salah.

Berhentilah menebak-nebak. Melelahkan. Jika dia tak bisa memberikanmu kepastian. Mintalah. Rebut kepastianmu sendiri. Jangan biarkan hatimu kau dudukkan di kursi yang bahkan kursi itu tak ingin diduduki, atau sudah ada yang menduduki hanya saja sedang pergi sejenak.

Bicara, maka semua penasaran akan sirna.

Karena cuma satu hal yang pasti, yaitu ketidakpastian.

Bebaskan Hati, Terbangkan


Beberapa orang menunggu, dan beberapa orang lainnya tak tahu sedang ditunggu.

Lantas salahkah dia jika dia terus berjalan ke depan? Semakin menjauh.

Orang yang jatuh cinta namun hanya menunggu, lebih sia-sia dari menggarami air laut. Jangan pernah salahkan orang yang ditunggu jika mengungkapkan perasaan saja tak mampu.

Kebesaran cinta tak bisa diukur dengan seberapa lama menunggu, tetapi seberapa berani menungkapkannya dengan tulus dan cara yang indah.Cinta yang utuh tidak layak menunggu terlalu lama, karena seiring berjalannya waktu hati itu akan habis dimakan sendiri.

Mencinta diam-diam adalah hal paling egois di dunia. Tak ada yang lebih egois dari seseorang yang memenjarakan hatinya sendiri. Begitu besar egonya menahan rasa cinta yang begitu ingin menyeruak ke luar, terbang bebas ke hati yang ingin disinggahinya.

"Aku takut hatinya enggan menampungku.”

Itu hanya alasan yang diada-ada sebuah sangkar hati yang egois. Hati sudah terlalu kenyang dengan alasan aku tak pantas untuk dia, aku bukan siapa-siapa baginya, dia tak menginginkanku, dan alasan egois lainnya.

Jangan kekang cinta. Bebaskan, terbangkan, maka ia akan kembali dengan sangkar barunya yang indah, untukmu. Layaknya burung camar terbang mengarungi sore yang indah di pesisir pantai.

Rabu, 25 Maret 2015

Ada 'rumah' di Matamu

Senangnya bisa kembali ke secarik kertas ini. Kertas digital yang selalu menjadi cawan yang kemudian kutuangi ide, cerita, atau sekadar curahan hati alam bawah sadar.

Terkadang, sebenarnya bukan terkadang, tapi selalu, aku selalu heran ketika suatu rencana yang dibuat manusia bisa hancur begitu saja oleh makhluk bernama ‘takdir’. Aku pernah mendengar sebuah pernyataan dari seorang dosen berbunyi ‘semua yang terjadi pada kita 80% adalah akibat perbuatan kita, 18% kondisi, dan 2% sisanya adalah takdir’. Jika dikaji lebih dalam, persentase tadi sebenarnya seimbang karena masing-masing pengaruh materi sesuai dengan kekuatannya. Biasanya kita baru memperhatikan komposisi ini ketika keadaan tak sesuai dengan yang kita inginkan. Dan ‘takdir’, sebagai persentase terkecil selalu menjadi kambing hitam paling empuk, jika kita sudah tak bisa lagi menyalahkan kondisi dan perbuatan kita sebagai persentase yang lebih besar.

“Nila setitik, rusak susu sebelanga,” peribahasa yang bisa aku ambil untuk masalah ini. Keburukan selalu lebih kuat dari kebaikan. Namun kebaikan selalu jadi pemenangnya, bukan?

Takdir, dengan persentase yang begitu rendah, bisa menjadi faktor kuat pengubah kejadian. Kita pasti menyadari itu ketika keadaan tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Bagaimana mungkin hanya dengan sedikit sentuhan takdir, rencana yang hampir sempurna sekali pun bisa porak-poranda? Itulah mengapa kubilang takdir itu kuat. Dengan pengaruhnya yang begitu besar, lalu, apakah kita bisa bilang takdir jahat? Jika tidak, mengapa pengaruhnya begitu besar seperti nila pada susu? Jika ya, bukankah seharusnya kebaikan yang jadi pemenangnya? Istilah ‘takdir’ diciptakan hanya agar manusia bisa menerima apa yang tak bisa dikehendakinya. Tepatnya, agar manusia punya sesuatu untuk disalahkan pada akhirnya jika kehendaknya tak terlaksana.

Takdir, juga yang mempertemukan kita, menghubungkan getaran-getaran yang pada awalnya tak terdeskripsikan, getaran yang seolah berkata “aku butuh kamu”. Hingga kita merumuskan rasa itu menjadi sebuah kebutuhan. Rasa butuh yang biasa orang sebut “sayang”. Pernah kita mengklaim diri kita tak akan berarti tanpa orang yang memenuhi kebutuhan kita. Namun pada akhirnya, kita membutuhkan orang yang paling membutuhkan kita.

Sepasang kekasih tak mungkin lagi bisa bersama kalau di antara mereka sudah tak lagi saling membutuhkan. Memang terkesan ‘memanfaatkan’, tapi itu memang sifat dasar manusia, ingin kebutuhannya dipenuhi, yang ujung-ujungnya agar merasa bahagia.

Seseorang yang membutuhkan kita bukanlah orang yang memanfaatkan kita, karena memanfaatkan berarti mengambil keuntungan dari seseorang yang sebenarnya tak terlalu kita butuhkan. Ketika menemui seseorang yang membutuhkan kita, secara langsung atau tidak, kita akan membutuhkan mereka juga. Karena tak ada artinya kelebihan kalau tak ada tempat untuk menuangkannya, seperti cintaku yang berlebih ini, kepadamu.

Menemukan seseorang yang kita butuhkan itu seperti menemukan rumah yang selama ini kita cari saat kita tersesat, karena rumah adalah tempat yang paling kita butuhkan. Kita selalu merasa aman, nyaman, tenang ketika berada di rumah. “Rumahku istanaku” terbukti bukan ungkapan omong kosong.

Pada akhirnya, kita membutuhkan orang yang ketika kita menatapnya, kita merasa seperti di rumah.

Everytime I look at you, I’m home :)

Dan itu bukan karena perbuatanku, kondisi, ataupun takdir, melainkan ketiganya.

Selasa, 24 Maret 2015

Balasan untuk Jatuh Cinta Diam-Diam

Diam, katanya emas. Jika memang begitu, harusnya orang yang jatuh cinta diam-diam praktis menjadi orang terkaya di dunia. Aku tahu! Mengapa jatuh cinta diam-diam tak kunjung membuat pelakunya kaya? Karena ‘emas’ yang di dapat karena diamnya habis digerogoti rasa penasaran dan kelelahan menebak-nebak.

Sesungguhnya benak orang yang jatuh cinta diam-diam adalah benak yang paling cerewet. Dalam pikirannya, orang yang jatuh cinta diam-diam akan terus berceloteh, bertanya, dan lagi, menebak. Mungkin terlihat tak ada lelahnya. Tetapi sebenarnya tak ada yang pernah menginginkan itu, hanya saja tak ada yang kuasa ketika itu menimpa dirinya.

Pertanyaan demi pertanyaan terus saja menghiasi pikiran. Aku, juga pernah jatuh cinta diam-diam. Kurang atau lebihnya, aku selalu bertanya.

“Apakah dia tahu kalau aku sering memandanginya bahkan ketika dia melakukan aktivitas sekecil apa pun?”

“Apa dia pernah melihatku, menyadari keberadaanku? Atau aku begitu tak nyata?”

“Pernahkah sedikit saja terlintas dalam pikirannya tentang aku?”

“Mengapa dia mengenakan baju dengan warna seperti warna kesukaanku?”

“Apakah dia punya perasaan yang sama denganku?”

Aku sering merenung, khususnya di malam hari. Tak mengerti mengapa hubungan antara satu manusia dengan manusia lain bisa begitu rumit, atau dibuat rumit oleh manusia itu sendiri? Entah.

Setahuku, komunikasi bisa meluruskan semuanya, menghilangkan penasaran, menghentikan kamu menebak-nebak. Bicara, dan kamu akan berhenti untuk lelah.

Karena orang yang jatuh cinta diam-diam, cintanya juga bisa berbalas. Balasan berupa penerimaan diam-diam, penolakan diam-diam, atau mungkin diabaikan diam-diam.

Writing About You

I write about you just to tell you that you are more than special for me.

I write about you just to keep you in my mind, in my life.

Maybe that’s the only thing I could do to keep you around me.

I write about you just to keep me awake and to disenchant me that you are just a dream.

And it’s too good to be true.

Writing about you is the only thing that keep me away from insanity. At least, I stay at the ‘delusionally unwell’ level.

I make beautiful writings I could ever done about you just to remind me you’re the best thing ever happened to my life.

Writing about you is just about reading all the memories with you, and whispering all my hopes to you.

I write about us because I’m afraid that you will erase all the memories. And I’m too afraid there will be no “us” at all.

Unfortunately, you never understood. Or I haven’t been good enough to make you understand.

Senin, 23 Maret 2015

Dendam yang Dititipkan pada Tuhan

“Aku sakit hati. Tunggu saja, karma akan membalasmu.”

Sepenggal kalimat tadi sering kita dengar di acara sinetron, atau terdengar dari mulut sendiri atau hati kecil kita.

Karma.
Mungkin itu salah satu alasan yang membenarkan kita menjadi seorang pendendam, dengan meminta bantuan semesta, dalam kasus ini, Tuhan. Apakah Tuhan begitu pendendam dengan mengajarkan dendam kepada umat-Nya? Atau Dia hanya berlaku adil? Entah, yang aku tahu, nabi mengajarkan untuk mendoakan yang baik meskipun kepada orang yang berbuat jahat pada kita.

Namun kita hanya manusia biasa. Ya, itu alasan yang paling sering dilontarkan ketika kita tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menjadi manusia yang luar biasa.

Ketika mendapatkan sesuatu yang buruk dari orang lain, kita sering memohon Tuhan ‘membalaskan dendam’ dengan berucap, “Biar Tuhan aja yang balas.”

Bagaimana jika perlakuan buruk itu merupakan balasan ‘dendam’ orang lain yang pernah kita sakiti pula di waktu sebelumnya, yang dia titipkan melalui Tuhan? Sekali lagi, entah.

“Mata harus dibayar dengan mata.” Seorang pendendam biasanya memiliki prinsip seperti itu, atau lebih buruk. Namun aku ingat apa kata Mahatma Gandhi.

“‘Mata dibayar dengan mata’ hanya akan membuat dunia (kamu) buta.”

Kamis, 19 Maret 2015

Yang Aku Butuhkan Hanya Lelah

Aku sudah lelah.

Maafkan aku yang lelah dengan semua pertanyaan yang berputar di kepala. Aku sudah lelah dengan segala persepsi yang terbentuk dari flim-film dan cerita dongeng berbalut kisah cinta bahagia abadi. Aku sudah lelah, bahkan dengan keinginan diri sendiri.

Aku sudah lelah dengan,
“Pasangan idaman adalah yang begini, pasangan idaman adalah yang begitu.”

Semua berputar-putar dan menjadi satu, membentuk satu sosok di ‘teater impian’. Sosok yang sempurna, yang tak punya celah. Sosok yang pada akhirnya kamu cari sebatas hanya karena diingini.

Dan ketika kamu terus mencari sosok yang sempurna, pada akhirnya apa yang didapati? Rasa lelah yang tak tertandingi, kebingungan yang terus menggerogoti, dan ketenangan yang terenggut karena terlalu lama sendiri. Namun jatuh cinta bukanlah seperti itu. Atau setidaknya, jatuh cinta yang baik, jujur, serius, komitmen, dan ingin bahagia bersama tidaklah seperti itu. Jatuh cinta yang sempurna, sejatinya justru tidaklah sempurna. Karena apa? Karena pasangan yang paling sempurna adalah dua orang yang tidak sempurna, namun bertemu untuk saling memperbaiki.

Adalah sebuah keniscayaan bahwa pria dan perempuan adalah dua makhluk paling “lebih”. 

Yang aku cari ini untuk siapa?

Aku bahagia, tapi bahagiaku harus kubagi dengan siapa?

Akhirnya semua pertanyaan itu menampar dan menyadarkan bahwa,

Bahagia yang sendirian lebih menyedihkan daripada menangis sendirian. 

Beruntungnya aku sudah merasa lelah. Sehingga kini, aku bisa menjawab semua pertanyaan itu.

Ternyata aku tidak butuh yang sempurna. Aku hanya butuh dia yang bisa memperbaiki aku.

Ternyata aku tidak butuh yang sempurna. Aku hanya butuh dia yang menenangkan dan selalu bisa menjadi teman berbagi.

Ternyata aku tidak butuh yang sempurna. Aku hanya butuh yang bahkan ketika aku sedang mengalami hari terburuk pun, yang aku ingin hanyalah untuk berada di sampingnya.

Ternyata aku tidak butuh yang sempurna. Aku hanya butuh kamu, yang tidak sempurna di mata semua orang, tetapi sempurna di mata dan hatiku sendiri.

Dengan Jarak, Kita Bisa Melihat Lebih Jelas

Coba dekatkan suatu objek sampai sedekat mungkin dengan mata,

apakah kamu bisa melihat sesuatu?

Kita butuh jarak untuk bisa melihat.Dengan jarak, kamu bisa melihat apakah seseorang benar-benar mencintai kamu atau tidak.

Kalimat itu sangat sederhana, namun pikirkanlah. Ada banyak makna di dalamnya.

Kadang Pertemanan Menjelma Menjadi Pembunuh Sebuah Cinta

Sebuah bangkai bisa jadi tak akan pernah tercium selamanya, jika seseorang yang mencium baunya pura-pura tidak mencium, atau menyangkal sedang mencium bau bangkai. Namun perasaan cinta bukanlah bangkai. Meski terselip dalam sebuah hubungan rumit bernama “pertemanan”, perasaan tetaplah perasaan.

Saya orang yang percaya pada sebuah ungkapan, cewek dan cowok tidak pernah bisa menjadi best friend sepenuhnya.Intensitas ketemu, ngobrol, dan saling terbuka mungkin saja perlahan, sedikit demi sedikit menumbuhkan benih-benih cinta, atau minimal suka. Dalam sebuah pertemanan seorang cowok dan cewek, bisa aja ada salah satu pihak yang sempat berpikir, “Dia baik sekali. Mungkin gak sih saya suka sama dia? Apa mungkin kita jadian?” Kalau bukan suka? Kenapa saya cemburu kalo dia sama yang lain? Padahal kita cuma temen. ”Dan akhirnya pemikiran dan perasaan itu dibunuh dan dikubur dalam-dalam dengan batu nisan bertuliskan “atas nama pertemanan” tertancap di atasnya.

Dari contoh di atas, kadang saya berpikir pertemanan itu kejam. Sebuah pertemanan di antara dua manusia berbeda jenis kelamin, kemudian tumbuh rasa-rasa di dada. Apakah itu semua salah manusia? Bukankah cinta datang sendirinya tanpa diduga-duga? Banyak orang yang rela membunuh rasanya sendiri hanya untuk menyelamatkan kedekatan dengan dia (dalam wujud teman) yang dipuja, dan untuk tetap bisa menjalani kebiasaan-kebiasaan bersamanya (meski dalam wujud teman). Sederhananya, ada yang memilih memendam rasa hanya karena takut jadi jauh karena dia gak punya perasaan yang sama. Miris, memang. Namun apa daya? Memang kadang rasa cinta yang tiba-tiba ada bisa menghancurkan jalinan pertemanan yang sudah dibangun sejak lama. Atau sebaliknya, status pertemanan yang ada membunuh sebuah cinta yang bersemi tiba-tiba.

"Nggak kok. Saya sama best friend saya gak ada rasa apa-apa. ”Mungkin kamu bilang nggak. Mungkin dia bilang nggak juga pas ditanya. Tetapi di dalam hati, gak ada yang pernah tau… bahkan diri kamu.

Lalu, siapakah yang berharap dalam hubungan pertemanan kamu dengannya? Dia, atau kamu? Dan sampai kapan mau membohongi diri sendiri? Pertanyaan terakhir dalam hidupmu adalah "Apakah pertemanan dan kedekatan itu lebih berharga dari rasa cinta yang tercipta?" Dan apa kamu tega membunuhnya?

Sabtu, 10 Januari 2015

Let's Change Yourself !

Ketika aku kecil, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini. Lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku saja. Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku mulai tumbuh dewasa, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin tua, aku pun tidak bisa mengubah keluargaku. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa ku ubah adalah diriku sendiri.

Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan akupun bisa mengubah seluruh dunia ini.